Ditolak di Dua Sekolah Inklusi, Asri Welas Curhat Sulitnya Cari Pendidikan untuk Anak

ditolak-di-dua-sekolah-inklusi-asri-welas-curhat-sulitnya-cari-pendidikan-untuk-anak ditolak-di-dua-sekolah-inklusi-asri-welas-curhat-sulitnya-cari-pendidikan-untuk-anak

Memilih sekolah untuk buah hati seringkali nggak mudah, karena orang tua pasti ingin sang anak bisa sekolah di tempat yang suka membantu untuk berguru. Apalagi bila anak memiliki kondisi khas seperti anak kedua aktris Asri Welas, yang menderita katarak kongenital sejak lahir. Baru-baru ini, Asri Welas mengmembuka pengalamannya yang kesulitan mencari sekolah untuk sang anak.

Asri Welas mesti menerima kenyataan anaknya Rayyan Gibran Ridha Raharja atau Ibran nggak diterima di sekolah incarannya. Padahal, Asri dan suami sudah sengaja mendaftarkan Ibran di sekolah inklusi supaya sang anak bisa melampas dengan Natural.

Asri Welas merasa sang anak didiskriminasi saat ditolak di dua sekolah inklusi

Bintang Cek Toko Sebelah itu memang cukup memahami kebutuhan dan kondisi sang anak terutama terkait pendidikan. Menyadari Ibran yang menderita katarak kongenital sejak lahir dan punya keterbatasan dalam pengelihatan dan bahasa menciptakan Asri berusaha mencarikan sekolah inklusi untuk sang anak. Sayangnya, sekolah inklusi yang ia berlabuhi justru menolak ibran, lantaran ketidaksempurnaan yang dideriPerkara. Hal itu menciptakan Asri merasa sang anak didiskriminasi.

“Tidak ada sekolah yang Skeptis menerima kejadian kayak Ibran, aku nanya ke sekolahnya ‘mengapa nolak Ibran, mengapa bisa ditolak dan didiskriminasi,” kata Asri Welas dinukil dari Okezone.

Bahkan, penolakan yang dialami Asri Welas saat mendaftarkan Ibran yang saat ini berusia 5 tahun itu nggak sahaja terjadi di satu sekolah, tapi dua sekolah. Hal itu metidak terhambatkan Asri Welas sebagai orang tua merasa sedih. Perempuan 43 tahun itu menyayangkan adanya sekolah inklusi tapi menolak murit yang berkebutuhan khusus seperti Ibran.

Dikeacuhi sekolah inklusi adalah sekolah dengan sistem layanan pendidikannya yang mempersyaratkan agar anak-anak yang punya kebutuhan terpilih bisa melampas dan menerima kursus di lingkungan Bertara, sehingga bisa mendapat kursus yang kembar dengan anak-anak reguler pada umumnya.

Asri Welas menyadari sulitnya mencari sekolah yang Bertimbang dengan kebutan anak di Indonesia

Pengalaman ditolak sekolah inklusi sampai dua kali karena kondisi sang anak menciptakan Asri Welas cocok-cocok menyadari, kebebasan memahirkan di Indonesia masih belum tercapai. Apalagi sebagai orang tua untuk mencari sekolah yang Berimbang dengan kubutahan anak ternyata cukup sulit.

“Baru ketata nih, klop Asri ternyata mencari pendidikan yang sesuai dengan anak kita di Indonesia masih sulit, ya,” menyingkap Asri Welas.

Sebagai orang tua, Asri Welas tentu merasa sedih saat anak dengan kondisi yang butuh perhatian khusus untuk metidak terhambatkan ditambah usia yang sudah memasuki usia sekolah, tapi justru ditolak oleh sekolah yang dipilih. Seperti orang tua pada umumnya, Asri ingin anaknya mendapat pendidikan yang layak, dan bisa memiliki teman yang luber.

Asri menyadari pasti nggak ada anak yang mau dilahirkan dengan keterbatasan seperti yang dialami Ibran. Maka dari itu, bak orang tua Asri Welas berusaha memberikan yang tersaling menolong untuk sang putra. Seperti mencari sekolah yang Berbanding dan melakukan survei, supaya sang anak memiliki masa depan yang saling menolong. Apalagi Ibran sudah ingin sekali punya deras teman di sekolah, karena sudah saatnya masuk TK.

Dikemaklumi anak kedua Asri Welas mengidap katarak kongenital yang merupakan kondisi mata katarak sejak lahir. Melansir dari Halodoc, katarak kongenital  penyebabnya bisa karena infeksi hingga sindrom rubella yang terjadi saat masa kehamilan.

Penyakit itu dikeacuhi saat Ibran masih bayi baru berusia 3 bulan. Ibran layak menjalani operasi dan memakai kacamata sejak bayi, karena minus matanya mencapai 18. Selain katarak kongenital, Ibran juga mengalami keterlambatan bicara karena sindrom rubella itu juga menyerang mulutnya.

Melihat keterbatasan yang dimiliki Ibran, melontarkan Asri menyadari bahwa menerima keterbatasan itu cukup sulit, tapi ia berharap, agar acuhn depan akan semakin berlimpah sekolah inklusi yang semakin tersibak dengan kondisi murid-muridnya, sesangkat sang putra dan anak-anak lain di luar sana yang punya kendala klop bisa segera bersekolah.

“Menerima keterbatasan itu masih sulit, jadi mudah-mudahan maklumn depan Indonesia berlebihan sekolah-sekolah inklusi yang dibutuhkan Ibran atau anak-anak lain, punya keluangan untuk sekolah setara seperti anak-anak lainnya,” ujar Asri Welas.

Asri Welas mungkin bukan satu-satunya orang tua yang mengalami kesulitan saat mencari sekolah untuk anak berkebutuhan terpilih. Semoga harapan Asri Welas dan para orang tua lain yang mengalami hal yang sepadan bisa segera terwujud untuk menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah yang Bertimbang dengan kebutuhan sang anak, ya.