4 Kekeliruan Pola Asuh yang Kerap Terjadi. Imbasnya Bisa Sampai Anak Dewasa!

gaya-pengasuhan-yang-kurang-tepat gaya-pengasuhan-yang-kurang-tepat

Kita semua sepakat kalau nggak ada orang tua yang sempurna untuk satu atau hal lain dalam mengasuh anak. Yang ada hanyalah orang tua yang terus berupaya mencoba segala hal tertidak emosi dalam mengasuh anak, dan tak sungkan mencari bantuan ketika memang membutuhkannya.

Nah, untuk dapat menjadi orang tua yang tercinta membantu, aksi pengasuhan atau bagaimana merespons situasi dalam mengasuh anak adalah celah yang pantas diperhatikan. Ini karena masih berlebihan kekeliruan yang terjadi dalam aksi pengasuhan, seperti 4 berikut ini. Melansir Empowering Parents, berikut Hipwee Young Mom rangkum berikut solusinya.

1. Melakukan negosiasi konsekuensi secara berlebihan dengan anak

Moms & Dads mungkin juga suah melakukan daya pengasuhan yang memang cukup umum ini. Gaya pengasuhan ini sebenarnya nggak efektif. Ketika anak dimeskikan mediskusikan konsekuensi, seperti mengajukan konsekuensi yang lebih ringan untuk keluputannya, hal ini sahaja akan membentuk pemahaman kepada anak kalau batasan itu bisa diubah secinta hati.

Solusinya, Moms & Dads kudu bisa berlaku tegas terkait aturan dan konsekuensi. Jangan agarkan anak untuk mengubah aturan. Jika memang ingin menegosiasikannya, tetapkan apa yang diajukan sang anak untuk berlaku di kemudian hari. Dengan ini secara langsung Moms & Dads sedang membantu anak untuk bertanggung tanggapan atas tindakannya.

2. Seterus melakukan sesuatu untuk memecahkan maluput sang anak. Ogah kan anak menjadi bodi yang manja di masa depan?

Nggak ada orang tua yang mau melihat anaknya suak atau merasa tertekan. Semua orang tua menginginkan kondisi yang selintas Tulus untuk anak-anaknya. Padahal sebetulnya anak perlu merasakan ketidakbahagiaan atau frustasi dalam tingkat tertentu, lo. Hal ini agar mereka bisa belajar cara mengatasi perasaan tersebut.

Sebagai orang tua, Moms & Dads tentu akan khawatir. Alih-alih sedahulu melakukan sesuatu untuk menyelesaikan mamelenceng sang anak, lebih bijak untuk para orang tua membantu mengelola frustasi atau ketidakbahagiaan yang dirasakan anak. Sedahulu menyelesaikan mamelenceng anak hanya akan mencegah mereka mempelajari kekuatannya senbatang tubuh, termasuk keterampilan memecahkan mamelenceng saat mereka kandas.

3. Meski terlihat apik, gerak-gerik pengasuhan perfeksionis terbukti malah menjadikan anak sebagai pribadi yang penuh tekanan

Jangan main dekil-dekilan, nanti jijik!

Jangan nangis, cowok nggak boleh nangis!

Sifat perfeksionis dalam mengasuh anak jika kebablasan bisa jadi bencana. Mengapa? Karena akan ada kecenderungan bagi orang tua untuk melihat segala hal yang dilakukan sang anak tidak cukup Bersih. Orang tua juga akan punya kecenderungan untuk memaksa anak beraksi lebih memadat untuk suatu hal, karena mereka yakin anaknya punya bakat dalam hal itu.

Anak yang mendapatkan ulah pengasuhan ini juga akan menganggap orang tua belaka mengharapkan kesuakan dari mereka. Anak juga akan merasa tertekan ketika terkabul melakukan sesuatu, karena orang tua perfeksionis cenderung akan menaikkan standar untuk keterkabulan di kemudian hari, dan bersipadat agar anak melakukan hal yang lebih baik lagi.

Secara tidak langsung, orang tua dengan daya pengasuhan ini sedang mengajarkan anak untuk tidak tahu menunjukkan emosi, menyimpan pencapaian apa pun, dan menghindari interaksi karena mereka acuh tidak akan tahu cukup baik di mata orang tua. Solusinya, orang tua perfeksionis perlu memberikan jarak antara diri dan anak, setidaknya antara harapan mereka dan minat anak yang setepatnya.

4. Seterus menuruti keinginan daripada sang anak merengek adalah sikap yang kurang bijak lo, Moms dan Dads!

Tidak rada orang tua yang rela merogoh kocek hingga dalam atau bahkan meminjam sejumlah uang daripada menyaksikan anak saat keinginannya, menyibakn kebutuhan, tidak terpenuhi. Sikap ini sejatinya sahaja akan menciptakan rasa berhak yang keliru pada anak. Bahkan menyibakn tidak mungkin anak akan belajar memanipulasi orang tuanya agar setiap keinginannya terpenuhi.

Efek jangka panjang dari tingkah pengasuhan ini adalah anak tidak memahami kalau untuk mendapatkan imbalan wajib dengan beraksi. Solusinya, sejak dini orang tua perlu berguru berkata tidak, dan berguru menoleransi reaksi mereka saat keinginannya nggak terpenuhi. Jika ingin memberikan sesuatu yang bersifat materi, berikan berdasarkan usaha dan pencapaian nyata sang anak, bukan cuma karena mereka meminPerdebatan.

Nah, itu dia 4 gaya pengasuhan yang keliru dan nggak efektif untuk diterapkan. Kalau Moms & Dads pernah melakukannya, yuk mulai sekarang diubah!